HARAPAN
Janji palsu
(karya desva yulita)
Ku hadiahkan sebuah pinta,
Berkali-kali pada orang yang Sama,
Angin memecahkan rasa,
beralun-alun untuk menagihinya,
Sang senjapun trus menghampiri,
aku trus berbohong pada sang ilahi,
bahwa diriku tidak perlu diobati, tapi gubuk-gubuk rindu sudah menyetubuhi,
Terlunta-lunta dengan irama kesesatan,
Hanya jenungan buktilah yang dapat mengantarkan, Ke biduk nan indah lagi pula sunnah, hingga memutih bercak-bercak uban menyelimuti dinding-dinding
kepala,
namun, pada endingnya berakhir dengan jambretan ke lumpur yang Hitam legam,
Semua bersemaian dalam diam,
Mengekang rasa yang tertanam,
Hingga lalu-lalang dengan pilu yang menerkam,
Sesak di qolbun sudah seperti naugan air yang berdesir mengalir tanpa hambatan,
di terpa angin senja menghangatkan kerinduan, nan redupan Surya yang flashback Akan kenangan, semua terbisu dengan seruan,
Terbesit masa silam menjadi pudar,
namun gentayangan,
nan duduk menghidangkan tea mengirup lalu menikmati bersama,
semuanya redup tanpa Kepastian,
Tak perlu menggenggam jika berakhir mengurai, tak perlu berbusa-busa melontarkan, jika sekedar mengisyaratkan,
Cukup sekian kau dustakan,
Aku tak ingin lagi kehujanan air mata dengan perbincangan yang kau keluarkan,
Berharap namun, nan sekedar harapan,
Segelintiranpun tak pernah kau tuangkan,
Milyaran lontara yang Kau perjanjikan,
Namun, kebulsitan yang bisaku dapatkan.


Komentar
Posting Komentar